Cita-Cita Anak atau Obsesi Orang Tua?

22 July 2016


DM School kembali berbagi kepada pendengar 92, 9 B FM pada 19 Juli 2016 lalu mengenai topik “Cita-Cita Anak atau Obsesi Orang Tua?” bersama Lana Hindriani, S.S. (kepala TK DM School) dan Liza Stephanie, S.Pd. (Deputi Head of English).  

Setiap anak kita yang berusia remaja pasti punya impian dan cita-cita. Namun seringkali mereka masih belum memiliki visi dan misi hidupnya seperti apa. Sebagai orang tua, yang tentu lebih berpengalaman, seringnya kita ingin mengarahkan yang terbaik bagi mereka. Namun tanpa disadari, kita mungkin lupa bahwa setiap anak memiliki bakat dan kemampuan masing-masing. Sehingga apa yang mereka inginkan tidak selamanya seperti yang diinginkan oleh orang tua. Dalam banyak kasus, sang anak akhirnya merasa salah jurusan dan sebagainya. Terjadi pula pada kasus lain, orang tua terlalu membiarkan anaknya memilih jurusan sesuka hati tanpa diberi pengarahan, saran atau pendampingan. Anak akhirnya terlampau memilih sesuka hati tanpa memikirkan betul masa depan yang terbaik. Pada akhirnya selalu dibutuhkan jalan yang terbaik agar saat anak-anak remaja kita memiliki impian dapat diarahkan dengan benar.

Lingkungan keluarga adalah lingkungan belajar anak yang pertama sehingga keterlibatan orangtua dalam pendidikan formal anak tentu akan meningkatkan prestasi sekolah anak. Keterlibatan orangtua terhadap pendidikan anak sebaiknya dilakukan sedini mungkin dan berkelanjutan karena apabila orangtua selalu peduli terhadap pendidikan anak di sekolah, pengaruhnya akan selalu positif terhadap perkembangan atau prestasi anak. Sebagus apapun fasilitas pendidikan dimana anak bersekolah, bukan berarti orang tua lepas tangan dan menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah.

Selalu diperlukan komunikasi yang intens dan mendalam antara orangtua dan anak remajanya. Bukan hanya saat orang tua ingin anaknya melakukan sesuatu namun setiap saat, agar relasi yang terjalin semakin mendalam. Khususnya saat ingin membicarakan cita-cita atau jurusan kuliah sang anak, sebaiknya jalinan komunikasi dimulai sejak awal, jauh sebelum bicara cita-cita atau keinginan anak remaja kita. Sehingga jalinan ini dapat terus terjalin baik. 

Sebenarnya kalau mau kita renungkan kembali sebagai orangtua, penting sekali kita memperhatikan kebutuhan anak-anak remaja kita. Orang tua bukan mengambil keputusan tetapi bersifat mengarahkan anak remajanya. Hal ini termasuk pula mengenali potensi, bakat, dan minat sang buah hati yang beranjak dewasa ini.

Saat orang tua ingin mengarahkan ke pekerjaan, profesi tertentu atau perusahaan keluarga, baiknya dikomunikasikan sejak awal. Anak remaja bisa dikenalkan, sambil dilibatkan sejak dini agar mereka mempunyai gambaran akan pekerjaan tersebut. Jadi tidak tiba-tiba langsung diterjunkan ke dalam pekerjaan yang asing untuk mereka. Selanjutnya apakah anak akhirnya tertarik ataupun tidak, maka orang tua baiknya menghargai keputusan mereka.

Kita sebagai orang tua remaja juga hendaknya senantiasa aktif bertanya kepada guru kelas sebagai bahan pertimbangan mengenai minat yang benar-benar mereka dalami. Tidak ada salahnya menjalin komunikasi dengan teman-teman dekat anak remaja kita. Biasanya di usia remaja, mereka lebih terbuka dengan teman seusia. Jalinan relasi ini akan membuat kita sebagai orang tua semakin memahami apa yang sebenarnya menjadi cita-cita anak remaja kita.

 

Pada akhirnya mari kita sebagai orang tua, senantiasa sabar dan bersemangat mendampingi putra putri kesayangan kita agar mereka dapat benar-benar meraih impian sesuai dengan potensi dan minta yang benar-benar mereka ingin tekuni di kemudian hari.