DM Movie: Yuk Belajar Membuat Film Pendek!

21 May 2016


Anak muda kini sangat akrab dengan teknologi hingga mereka sering disebut sebagai generasi digital. Ketertarikan dan kemampuan dalam dunia digital dapat membawa dampak positif saat diarahkan dengan benar.

Di SMA Kristen Dharma Mulya, kemampuan dan ketertarikan tersebut dimanfaatkan sekolah dalam bentuk kegiatan DM Movie. Kegiatan ekstrakurikuler ini memberi bekal para siswa dalam membuat film pendek, yang mengolah kemampuan mereka dalam mengomunikasikan sebuah pesan.

Dalam kegiatan DM Movie, siswa belajar:

  • bagaimana bercerita dan menyampaikan pesan secara visual melalui bahasa film (gambar dan suara)
  • bagaimana membuat skenario, menentukan talent (pemeran) yang sesuai kebutuhan cerita
  • penyutradaraan
  • membuat surat izin untuk melakukan proses pengambilan gambar (shooting)
  • pengambilan gambar yang baik, mulai dari jenis angle beserta maknanya.

Kegiatan ekstrakurikuler DM Movie ini membuat para siswa merasakan menjadi kru, mulai dari produser, sutradara, kameraman, art director, hingga editor.

Jadi tidak hanya berhenti di tahap pengambilan gambar namun mereka juga belajar bagaimana menata sebuah gambar (proses editing) hingga menjadi sebuah film pendek yang siap ditonton. Termasuk pula bagaimana mendistribusikan film pendek hasil karya mereka tersebut agar ditonton oleh banyak orang lagi. Kegiatan distribusi film pendek ini melalui pemutaran film dan diskusi (screening) dan mengikutkan film pendek tersebut ke dalam berbagai festival dan kompetisi film pendek.

Sekolah kristen di Surabaya Barat ini memang menjajal banyak sisi yang dapat diajarkan pada para siswa untuk mengembangkan talenta mereka. Ini selaras dengan fokus mengembangkan karakter kristiani. Talenta itu harus dikembangkan untuk kemuliaan Tuhan.

Salah satu karya mereka juga pernah masuk nominasi penghargaan lokal. Menghasilkan karya yang dapat ditonton oleh orang banyak, suatu kebanggaan sendiri bagi para siswa yang mengikuti ekstrakurikuler DM Movie di SMA Kristen Dharma Mulya ini.

Karya para siswa berjudul "We are not Alone" yang bercerita tentang seorang laki-laki yang gemar membaca sejak kecil hingga buku-buku yang pernah ia baca itu, ia jadikan sebagai sahabat terbaiknya. Hingga suatu saat dia mencoba menemukan sahabat yang bernyawa sepertinya yang dapat menjadi pahlawan terbaik yang juga dapat ia cintai. Kalau kata Abraham Lincoln, sahabat terbaik adalah seseorang yang menghadiahi buku yang belum pernah pernah dibaca. Akankah dia menemukannya?