Megawati Mulyono: Dedikasi Menjadi Guru Sepenuh Hati

29 September 2015


Menjadi guru tidak hanya mengajarkan materi kepada para siswa tetapi juga bagaimana mendidik karakter mereka. Inilah prinsip yang dipegang oleh Ibu Megawati Mulyono, Kepala SMA Kristen Dharma Mulya Surabaya yang sudah menjadi guru sejak tahun 1980.

Masih lekat dalam benak beliau saat pertama kali datang ke Surabaya, naik bus malam untuk melamar pekerjaan di sebuah sekolah. Hingga kini, beliau sudah benar-benar merasakan bahwa Tuhan memang memberikannya visi menjadi seorang pendidik untuk menyiapkan generasi kini menjadi generasi yang berintegritas.

Mari simak hasil wawancara dengan Ibu Mega yang sudah menjadi kepala sekolah kristen di Surabaya Barat ini hingga menyelesaikan tugasnya di tahun 2024 yang menekankan kepada pembentukan karakter Kristiani ini.

 

Bagaimana awalnya Ibu Mega memutuskan untuk menjadi seorang guru?

Saya mengajar sejak tahun 1981. Keputusan saya untuk menjadi seorang guru, saat itu datang begitu saja. Pada waktu saya lulus S1 dari fakultas Ilmu Pendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana kemudian ada tawaran dari seorang teman bahwa sebuah SMA swasta di Surabaya membutuhkan guru bahasa Inggris. Dalam pikiran saya waktu itu, setelah lulus saya harus segera mendapatkan pekerjaan. Maka dari itu, kemudian saya menuju ke Surabaya. Saya melamar pekerjaan di sekolah tersebut dan diterima menjadi guru bahasa Inggris. Itu awalnya saya mengajar di Sekolah Menengah Atas.

 

Apakah ada dukungan dari orang terdekat atau datang dari diri sendiri?

Jujur, pekerjaan menjadi guru yang pertama kali itu bukan yang saya impikan. Pada waktu itu yang ada dalam benak saya, setelah lulus kuliah, harus  bekerja terlebih dahulu. Kemudian dalam proses menjadi guru itu, sayapun masih sering memikirkan impian saya yaitu menjadi seorang interpreter (penerjemah, karena saya lulusan bahasa Inggris). Saya lalu mengingat pesan orang tua saya yang mengatakan bahwa pekerjaan apapun, jangan suka berpindah-pindah. Pergumulkan itu dan lakukan dengan sungguh-sungguh. Kalau tidak amat perlu, jangan pindah. Jadi saya berusaha untuk menyenangi pekerjaan itu dari waktu ke waktu hingga akhirnya Tuhan menunjukkan bahwa memang saya harus menjadi guru.

 

Bagaimana prosesnya, hingga akhirnya Bu Mega benar-benar yakin bahwa visi Ibu menjadi seorang guru?

Setelah kira-kira dua tahun mengajar, saya mendapat tawaran untuk menjadi dosen. Saya meminta izin kepada kepala sekolah untuk resign karena saya mendapatkan pekerjaan ini. Kepala sekolah mengatakan bahwa, ”Ibu, saya mohon tidak resign karena di sini amat membutuhkan.” Kemudian saya pergumulkan, mana yang lebih penting. Kalau saya pindah, memang itu kepentingan pribadi saya tetapi di satu pihak (di sekolah tersebut), saya lebih dibutuhkan. Akhirnya saya putuskan, ya sudah saya tidak jadi menerima tawaran untuk menjadi dosen. Dari situ saya terus menjadi guru bahasa Inggris.

 

Ketika Ibu Mega mempunyai sebuah impian tetapi ternyata Tuhan memberikan visi yang berbeda dengan impian itu. Bagaimana pergumulan yang Ibu rasakan?

Pergumulan itu memang terjadi. Terutama saat ada teman yang bercerita kalau mereka menjadi penerjemah, kembali keinginan itu muncul. Hanya saja pekerjaan menjadi guru bahasa Inggris waktu itu begitu padat. Sedari pagi hingga sore, begitu seterusnya hingga esoknya saya masih harus menyiapkan mata pelajaran lagi jadi lama-lama keinginan itu terkubur dengan kesibukan. Saya juga harus mengembangkan diri menjadi guru dalam mengajar. Ditunjang juga dengan situasi di sekolah itu, begitu akrab, begitu penuh persaudaraan.

 

Hingga akhirnya sekarang ini, Ibu menjadi seorang pendidik, menjadi guru, sudah benar-benar Ibu rasakan sebagai visi hidup Ibu?

Saya kira begitu karena tidak pernah terbersit lagi, saya akan ahli profesi kecuali purna tugas.

 

 

 

Bulan Agustus adalah bulan yang penting bagi bangsa Indonesia, karena peringatan kemerdekaan. Apakah sejauh ini menurut Ibu, yang sudah Ibu lakukan menjadi seorang guru dan pendidik itu termasuk sebuah jalan mengisi kemerdekaan?

Bagi saya sebagai seorang guru dan mendidik itu tidak hanya mengajar para siswa. Saya juga selalu berusaha mendidik mereka untuk mempunyai karakter yang benar. Saya pikir itu adalah sebagian yang bisa saya lakukan untuk mengisi kemerdekaan negara ini. Mempersiapkan generasi penerus untuk menjadi generasi yang berintegritas. Jadi saya melakukan segala sesuatu tidak hanya karena mendapatkan reward, tidak hanya untuk naik pangkat dan sebagainya tetapi memang benar-benar dilakukan sebagai rasa syukur saya kepada Tuhan sehingga pekerjaannya bisa bermanfaat buat orang lain juga. Saya kira meskipun tidak 100 persen, itu sebagian yang bisa saya lakukan untuk mengisi kemerdekaan negara ini.

 

Seorang guru juga seorang pendidik, memberikan pengarahan untuk punya karakter yang benar, bisa diceritakan pengalaman selama ini agar mereka mempunyai karakter yang baik?

Saya selalu ingin masuk kelas untuk mengajar, bukan hanya melakukan tugas saya sebagai pimpinan (kepala sekolah) karena dengan mengajar, saya bisa berinteraksi dengan siswa. Saya bisa memasukkan nilai-nilai karakter yang baik kepada siswa. Dalam mengajar –saya mengajar bahasa Inggris, mungkin ada suatu reading text yang dibaca dan sebagainya. Pada pembahasan reading text itu, saya sering memasukkan nilai-nilai karakter bahwa nilai moral dari cerita ini misalnya bahwa kita perlu bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, kita perlu jujur, bertanggung jawab, melakukan segala sesuatu dengan tuntas tidak hanya setengah-setengah. Demikian juga nanti selepas SMA, memasuki dunia kerja atau kuliah. Terapkan itu, ingat-ingat itu. Saya sering memasukkan demikian untuk membentuk karakter mereka. Mungkin pada saat ini mereka tidak terlalu memahami tetapi, sepuluh tahun kemudian akan ingat bahwa karakter-karakter tersebut amat penting pada saat para siswa berada di masyarakat nantinya.

 

Setiap generasi tentu berbeda sekali pengajarannya. Bu Mega sudah mengajar dari tahun 80-an hingga kini, pasti mengalami banyak perubahan generasi. Apa perbedaan yang amat menonjol?

Amat jauh berbeda. Yang pertama, perbedaan dalam paradigma pendidikan. Kalau pada tahun-tahun 80, pada waktu itu seorang guru mengajar, masih dalam koridor teachers center. Guru menjadi pusat, seolah-olah guru itu yang tahu segalanya, murid tinggal mendapat. Kini zaman berubah. Saat ini teachers center mulai bergeser pada learner center, yaitu yang menjadi pusat adalah pembelajar. Guru hanya sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa untuk mengakses sumber-sumber belajar yang banyak sekali, selain guru. Bahkan pada waktu mengajar, pada waktu mendiskusikan suatu mata pelajaran, misalnya, guru perlu belajar juga bersama-sama siswa karena tidak semua hal bisa guru pahami apalagi dengan era digital yang begitu maju ini.

 

Masih berkaitan dengan generasi saat ini. Ibu sudah banyak mengalami perubahan seperti kurikulum, ujian nasional dan sebagainya. Menanggapi tentang kebijakan dari bapak Menteri Pendidikan, bagaimana menurut pendapat Ibu Mega tentang kebijakan yang mulai tahun ajaran ini menekankan pada relationship (anak - orang tua - masyarakat), budi pekerti dan karakter bangsa?

Saya sepenuhnya setuju dengan kebijakan Bapak Menteri Pendidikan karena pendidikan dasar dan pendidikan menengah tidak hanya tanggung jawab sekolah tetapi juga tanggung jawab orang tua dan tanggung jawab masyarakat. Ketiga hal ini (sekolah, masyarakat dan juga orang tua) harus bekerja sama dengan baik untuk keberhasilan pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Orang tua tidak bisa begitu saja menyerahkan dengan menganggap bahwa pendidikan hanya urusan sekolah. Demikian juga masyarakat sekitar perlu juga terlibat di dalam pendidikan. Berikutnya untuk kebijakan mengenai pendidikan karakter yang berbudi pekerti luhur. Saya kira, sudah ada indikasi bahwa budi pekerti luhur anak-anak bangsa saat ini mulai luntur oleh karenanya amat tepat kalau bapak menteri mulai menekan bahwa berbudi pekerti luhur harus ditumbuhkan khususnya pendidikan dasar dan menengah, dengan mencintai bangsa dan tanah air, dengan menyanyikan lagu kebangsaan setiap hari, memperhatikan lingkungan, misalnya piket kebersihan harus mulai digalakkan lagi, melakukan interaksi positif antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, guru dengan siswa juga menanamkan nilai-nilai karakter yang baik seperti: jujur, rajin, tangguh, tidak mudah menyerah, takut akan Tuhan. Saya kira kebijakan bapak menteri ini perlu diterapkan dan amat perlu.

 

Kalau menurut Bu Mega sendiri yang sudah mengalami banyak perubahan era sejak tahun 80-an hingga kini, kira-kira pola pendidikan seperti apa yang tepat untuk generasi digital saat ini?

Pola pendidikan yang membuat mereka menyeimbangkan diri antara kecanggihan teknologi digital dan juga berkembangnya komunikasi sosial yang baik. Kalau mereka hanya bertumpu pada kecanggihan teknologi digital, mereka akan melupakan hubungan sosial face to face bahkan sampai diabaikan. Saya kira itu tidak baik. Kalau hubungan sosial diabaikan, misalnya bersama-sama istirahat di kantin, tidak ada komunikasi sama sekali. Masing-masing hanya memegang gadget-nya saja, tidak ada saling bertanya, misalnya: apakah kau agak sakit atau apa. Saya kira komunikasi sosial akan menjadi bertambah kurang dilakukan. Jadi harus seimbang.

 

Menurut Ibu sebagai seorang guru di Indonesia, apakah arah pendidikan Indonesia sudah mengarah pada track yang tepat  yaitu tidak hanya menjawab kebutuhan generasi abad 21 tetapi juga sesuai dengan kepribadian Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara ?

Pola kebijakannya sudah mengarah kepada hal yang tepat. Persoalannya adalah pelaksana-pelaksananya. Guru-guru harus dibekali juga karena guru-guru itu menurut Bapak Anis Baswedan dan menurut saya juga adalah hal yang amat penting di dalam pendidikan. Guru-guru juga harus dibekali bahwa kebijakan itu harus dijalankan dengan sungguh-sungguh untuk kepentingan anak didik. Karena memang sudah sekian tahun, guru-guru tidak menerapkan itu terutama dalam membentuk budi pekerti luhur. Jadi kebijakannya sudah tepat tetapi pelaksananya juga harus dibekali melakukan kebijakan itu dengan sungguh-sungguh.

 

Bu Mega sebagai seorang senior, mungkin ada pesan untuk generasi muda yang akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang guru?

Bagi mereka yang ingin menjadi guru, mereka harus mempunyai passion untuk menjadi guru. Jadi jangan hanya merupakan batu loncatan. Kalaupun merupakan batu loncatan, berusahalah untuk menjiwai profesi itu sehingga kalau menjadi guru, sungguh-sungguh akan bisa bermanfaat bagi anak didik karena menjadi guru, tidak hanya berhubungan dengan kertas-kertas atau materi surat menyurat tetapi berhubungan dengan manusia-manusia yang diciptakan Tuhan yang akan bertumbuh menjadi generasi yang berikutnya.

 

Sebagai seorang guru, adakah impian Ibu di dalam dunia pendidikan Indonesia  yang sudah tercapai dan belum tercapai?

Khususnya sebagai guru bahasa Inggris, saat saya melihat mantan murid saya menjadi guru bahasa Inggris, saya begitu bangga. Apalagi saat mereka mengatakan kalau mereka menjadi guru bahasa Inggris karena dulu melihat saya menjadi guru bahasa Inggris. Oh, itu begitu menyenangkan. Saya merasa, oh, berarti pada waktu saya mengajar, menjadi model buat mereka. Demikian juga bagi mereka yang sudah sekian lama menjadi mantan murid kemudian datang dan mengatakan, “Ibu saya dulu tidak bisa bahasa Inggris, suka Ibu marahi. Sampai sekarang saya juga enggak bisa, Ibu. Baru sadar kalau bahasa Inggris itu penting, Ibu.” Itu menunjukkan juga bahwa apa yang dulu saya berikan tidak mereka sadari tetapi setelah sekian lama mereka baru sadari bahwa itu memang penting. Maka dari itu, sekarang saat saya mengajar, saya sambil memberikan wejangan dan sebagainya. Saya sering menasihati bahwa, “Saat ini mungkin kau tidak mengerti. Mungkin sepuluh, lima belas tahun lagi, kamu baru tahu.”

 

Kalau generasi sekarang sepertinya sudah terbiasa dengan bahasa Inggris. Bagaimana menurut Ibu sebagai guru bahasa Inggris mengenai perkembangannya di masa kini?

Menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa asing itu memang amat penting tetapi bagi saya, meskipun saya guru bahasa Inggirs, memasukkan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari, saya kurang setuju. Misalnya sekarang di sekolah-sekolah, panggilan 'Pak' dan 'Bu', sudah hampir luntur dengan diganti Ma'am. Kenapa mesti begitu? Kita kan, belajar di sekolah nasional dan harus memanggil dengan 'Bu Mega' bukan Ma'am Mega. Kalau mengajar di sekolah internasional, tidak apa. Menguasai bahasa Inggris untuk komunikasi, untuk membaca, untuk menambah ilmu pengetahuan, untuk nonton film dan sebagainya itu harus dikuasai. Karena itu kunci untuk maju di era ini tetapi tidak lantas semua menjadi  bergaya ke-inggris-inggrisan. Saya tidak pernah menyarankan siswa saya memanggil dengan Ma'am, tetapi Bu. Meskipun saya guru bahasa Inggris. Tidak juga dengan Miss, misalnya untuk yang belum menikah. Kita harus bangga dengan bahasa Indonesia di hadapan orang-orang asing. Memakai secara tepat boleh, tetapi tidak dicampur-campur begitu saja sehingga akhirnya kurang menguasai bahasa Indonesia dengan baik.

 

Dalam rangka memperingati kemerdekaan Indonesia ke-70 tahun, apakah, impian Ibu untuk bangsa ini sebagai seorang warga negara Indonesia?

Impian saya, bangsa ini bisa menjadi bangsa yang adil dan makmur, dengan generasi mudanya yang bisa membanggakan, sehingga oleh negara-negara di sekitar diakui sebagai negara Indonesia dengan generasi yang unggul bukan diremehkan. Anak bangsa kita sebetulnya mempunyai potensi-potensi yang baik, terbukti dengan: mereka yang sekolah di luar negeri dengan belajar sungguh-sungguh selalu mencapai prestasi yang bagus. Itu harus diterapkan, bangga bahwa kami orang Indonesia.

 

Ada pesan untuk generasi masa muda saat ini?

Jadilah generasi penerus yang bertanggung jawab, yang menggunakan waktu sebaik-baiknya dan selalu mengandalkan Tuhan.